Tampilkan postingan dengan label 2. Profil Wirausahawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2. Profil Wirausahawan. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Oktober 2010

Aburizal Bakrie

Ir. H. Aburizal Bakrie (lahir di Jakarta, 15 November 1946; umur 63 tahun) adalah seorang pengusaha Indonesia yang merupakan Ketua Umum Partai Golkar sejak 9 Oktober 2009. Ia pernah menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Sebelumnya ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Perekonomian dalam kabinet yang sama, namun posisinya berubah dalam perombakan yang dilakukan presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 5 Desember 2005.
Dia adalah anak sulung dari keluarga Achmad Bakrie, pendiri Kelompok Usaha Bakrie, dan akrab dipanggil Ical. Selepas menyelesaikan kuliah di Fakultas Elektro Institut Teknologi Bandung pada 1973, Ical memilih fokus mengembangkan perusahaan keluarga, dan terakhir sebelum menjadi anggota kabinet, dia memimpin Kelompok Usaha Bakrie (1992-2004).
Selama berkecimpung di dunia usaha, Ical juga aktif dalam kepengurusan sejumlah organisasi pengusaha. Sebelum memutuskan meninggalkan karier di dunia usaha, dia menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) selama dua periode (1994-2004).
Pada 2004, Ical memutuskan untuk mengakhiri karier di dunia usaha, setelah mendapat kepercayaan sebagai Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Kabinet Indonesia Bersatu periode 2004-2009. Dan sejak terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar 2009-2010, waktu dan energinya tercurah untuk mengurus partai.

http://id.wikipedia.org/wiki/Aburizal_Bakrie

Toni Jack’s Indonesia

Lokasi: Sarinah Thamrin - Jakarta
Saya kaget waktu melintas di jalan Thamrin melihat sign Mc Donald sudah tdk ada digantikan dengan Toni Jack. Wah ada tempat baru lagi nih. Tdk ada kepikir jenis makanan apa Toni Jack itu. Saya sempatkan utk coba. Ternyata Toni Jack itu menyediakan burger. Waktu saya menulis ini kayanya belum ada yg mereview nih tempat. Mungkin Tour Makanan yg pertama meriviewnya.
Kesan saya waktu masuk kesini dan melihat paket menu beserta slogan yg ada kok seperti orang yg lagi kesal dan melampiaskan kekesalannya dengan buka tempat burger. Kenapa saya bisa bilang begitu. Lihat saja dari menunya Marah 1, Marah 2 … dst. juga slogannya “Better Than That One”. Kayanya saya tau siapa yg dimaksud dengan “that one”. Pasti Mc Donald dan pasti sedang terjadi perselisihan antara pemilik yg dulu dengan Mc Donald.
Ok sekarang time to discuss about the food. Slogannya “Better Than That One” hanya slogan semata buat saya. Foos dan servicenya tdk mencerminkan “Better Than That One”.  Sekarang saya akan bahas satu2 apa yg saya maksud:
Food:
Kalau yg punya ini mau beat Mc Donald rasa burgernya harus istimewa dari Mc Donald. Tapi kalau rasanya spt itu jauh utk bisa pukul Mc Donald. Blenger Burger aja yg produk lokal bisa buat burger enak masa ini yg sudah pengalaman di bidang burger tdk bisa bikin burger yg enak.
Price:
Harga harus lebih menarik dari kompetitor utk bisa beat mereka. Masa harga produk lokal lebih mahal dari harga Burger King kan engga masuk akal. Perbandingan saya adalah pesan paket 1 dan 2 lengkap di Toni Jack dengan pesan 2 paket 1 nya Burger King (sekarang ditambah chicken finger).
Penyajian:
Masa kertas diatas nampannya dan tempat french fries nya hanya dari karton putih yg benar aja. Kesannya seperti murahan. Kalau belum siap jangan dulu buru2 buka. Mantapin dulu semuanya baru buka.
Interior:
Kursinya masih pake kursi Mc Donald dulu yg berwarna kuning sedangkan dominasi warna Toni Jack adalah orange sama hijau muda. Masa beli kursi baru engga punya duit.
Saya senang kalau ada tempat makan lokal baru yg buka. Tapi slogan “Better Than That One” masih jauh dan harus kerja keras lagi kalau mau benar2 beat Mc Donald. Coba contoh Sour Sally. Konsepnya benar2 bagus sekali. Mulanya saya engga sangka kalau itu produk lokal. Dengan Sour Sally sebagai barometer sekarang banyak tempat yogurt lokal buka yg designnya bagus2.

http://tourmakanan.com/toni-jacks-indonesia

Andrie Wongso

Andrie Wongso (lahir Desember 1954) adalah motivator asal Indonesia, yang lebih dari 20 tahun berkiprah sebagai pengusaha sukses. Kemauannya untuk berbagi semangat, pengalaman dan kebijaksanaan, dengan gaya bahasa yang sederhana tetapi full power kepada begitu banyak orang, membuat dirinya menyatakan diri sebagai The Best Motivator atau Motivator No. 1 Indonesia. Belum ada media khusus yang memberikan penghargaan ini.

Latar belakang

Anak ke-2 dari 3 bersaudara ini terlahir dari sebuah keluarga miskin di kota Malang. Di usia 11 tahun (kelas 6 SD), terpaksa harus berhenti bersekolah karena sekolah mandarin tempat andrie kecil bersekolah ditutup. Maka SDTT, Sekolah Dasar Tidak Tamat, adalah gelar yang disandangnya saat ini. Masa kecil hingga remajanya pun kemudian dilalui dengan membantu orang tuanya membuat dan berkeliling berjualan kue ke toko-toko dan pasar.
Di usia 22 tahun, Andrie memutuskan berangkat ke Jakarta demi merubah nasib dengan satu tekad yakni siap menghadapi apapun di depan dengan berani dan jujur. Maka dimulailah kerja sebagai salesman produk sabun sampai pelayan toko.
Kesukaannya bermain kungfu dari kecil dan kemampuannya bergaul dengan semua kalangan membawanya mendirikan perguruan kungfu Hap Kun Do. Saat film-film laga dari Taiwan merajai layar lebar perfilman Indonesia, Andrie melamar sebagai bintang film dan diterima oleh perusahaan Eterna Film Hongkong, dengan kontrak kerja selama 3 tahun. Tahun 1980, untuk pertama kalinya Andrie ke luar negeri. Setelah melewati 3 tahun merasakan suka dukanya bermain film di Taiwan, Andrie tahu, dunia film bukanlah dunianya lalu dia memutuskan untuk kembali ke Indonesia.
Sepulangnya ke Indonesia, dia pun memutuskan tidak akan memperpanjang kontraknya. Banyak orang menyatakan Andrie gagal karena tidak ada satu film pun yang diwakilinya sebagai bintang utama. Tetapi Andrie merasa dirinya sukses secara mental dalam memperjuangkan impian menjadi kenyataan.
Menandai setiap peristiwa yang telah dilalui, Andrie gemar menuangkannya dalam bentuk kata-kata mutiara di buku hariannya. Saat salah seorang teman kos mencontek kata-kata yang dibuatnya, dari situlah muncul ide membuat kartu ucapan kata-kata mutiara, dengan tujuan selain untuk memotivasi diri sendiri, juga untuk membantu memotivasi orang lain melalui kartu ucapan. Dibantu oleh sang kekasih Haryanti Lenny (sekarang istri), dimulailah bisnis membuat kartu dengan merk HARVEST, yang di kemudian hari, mengukuhkan Andrie sebagai raja kartu ucapan.
Kemudian diversifikasi perusahaan pun dilakukan, merambah ke bidang holografi, perusahaan mainan, pengelola beberapa foodcourt dan untuk menaungi bidang pendidikan dan kepelatihan, Andrie mendirikan AW motivation training dan AW Publising, Multimedia serta membuka beberapa outlet AW Success Shop yaitu toko pertama di Indonesia yang khusus menjual produk-produk motivasi. Sejak tahun tahun 1989, dia menjadi pembicara/motivator intern PT. Harvindo Perkasa (Harvest Fans Club di berbagai kota), dan dari sinilah, kemudian ia sering melakukan training motivasi, tidak hanya untuk Harvindo tapi juga untuk berbagai perusahaan dan instansi. Kini, ia dijuluki sebagai Motivator No. 1 di Indonesia. Lalu, gelarnya ditambah TBS, yang artinya Tapi Bisa Sukses. Itulah Andrie Wongso, SDTT, TBS.

[sunting] Pengalaman sebagai pembicara

[sunting] Bank

BCA se-Indonesia, Bank BRI, Bank Niaga, Bank DKI, Bank BCA, HSBC, Citibank, Bank Mandiri, Bank Niaga, Bank Permata, Bank Danamon, Bank Panin, Bank Bali, LIPPO Bank, DBS Bank, BNI 46, BRI, American Express, Commonwealth, ABN AMRO, Dll

[sunting] Organisasi

FORKI (Federasi Olahraga Karate-do Indonesia, Pondok Pesantren Darut Tauhid pimpinan Aa Gym, Asosiasi Manager Indonesia (Bandung, Jakarta, Malang), Indonesia Marketing Association (IMA), Marketing Forum - Jakarta, APKOMINDO (Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia), Indonesian Manager Club, Surabaya, Marketing Club - Surabaya, Cacat Laetitia (Yayasan Penyandang), DLL

[sunting] Asuransi

Prudential, Allianz, Manulife, Astra Buana, Astra CMG, AIA, AIG Lippo, Buana Finance, ABDA, Tripakarta, Sequis Life, Eka Life, Sun Life, LG Insurance, Cigna, Wana Artha Life, Great Eastern, dll

[sunting] Pemerintahan dan BUMN

Garuda Indonesia, PT PLN (Persero) Distribusi Jateng dan DIY, Telkom, PLN, Bank Indonesia, Pertamina, Pertamina - SPSI, Pertamina - Hiswana Migas, Pupuk Sriwidjaja, PT Dirgantara Indonesia, Ditjen Pajak, Ditjen Bea Cukai, Ditjet Pembangunan Daerah, Pemda Kalimantan, Depdagri Bangda, Deperindagkop, Komisi Pemilihan Umum, Perum Perumnas, PT Timah, YKKBI, Jasa Raharja, Berdikari, Konferensi Nasional Pengembangan UKM, Diklatpim Tingkat II Angkatan VII (Pejabat Eselon II), Diklatpim Tingkat II Angkatan VIII(Pejabat Eselon II), Diklat calon Kapolda se-Indonesia (SESPIM), Diklat istri calon Kapolda, Korpri Kebumen

[sunting] Perusahaan

Semen Padang, Aspan, BEJ, Velo Networks, Mensana Aneka Satwa, Wijaya Karya, Stamco Consulting, Pama Persada, Astra Pekan Baru, Premiere, Rentokill, Suzuki Finance, Philips, Bina Guna Kimia, Kota Wisata, Mega Glodok Kemayoran, PT Arta Boga Cemerlang, Cosmos, Speedy,Modern Internasional,LG Electronics, Kino Care, Otsuka, TOP 1, National Label, Tata Mulia, Hotel Ciputra, Velo Networks, Suzuki Finance, Astra International, Honda, Suzuki, Toyota, Mitsubishi, Isuzu, Ford, Unilever, Coca Cola, Samsung, Telkomsel, Indosat, Nestle, Summarecon, Agung Podomoro, Jababeka, Gramedia Group, Metropolitan Group, Kalbe Farma, Viva Cosmestics, Tempo Scan Pacific, Merck, PT Berca, PT Tancho, Indomobil, Excelso, Danone, Guardian, FIF, Indadi Utama, Mulia Industrindo, Adira Finance, General Electric Finance, Global Teleshop, Oriflame, UFO, Sun Hope, Columbia, Tupperware, Prime & First, Sara Lee, EaseCox, Matahari Supplier Club, New Armada, Infomedia, PT Plaza Adika, United Tractors, Ray White, Roy Weston, Gunung Agung, Bekasi Trade Centre, Fajar Mas Murni, Indonesia Comnet Plus, Putra Karya Perkasa, Novell, Adi Wisesa Mandiri, New Zealand Milk, Kageo, Multimart, Capriasi, Indo Truck, PT ASABA, Wovenindo, Yonex Shoes, PT Total Indonesie, Belleza, TNT, FSCM, Serpong Town Square, PT Pama, Indra Optic, Artolite, Karya Inti Sejahtera, Century Park Hotel, Inti Mas, Abbot, Century 21, Tritanu, Forexindo, Rumah Sakit Islam, Dll

[sunting] Media cetak

Tabloid NOVA, Suara Pembaruan, Gramedia (Elex Media Komputindo), Media Indonesia, Tribun Kaltim, Bobo majalah anak, Easy Mag, DLL

[sunting] Media Elektronik

RCTI, Trans TV, SCTV, Metro TV, Q Channel (Indovision), TVRI, Smart FM, MettaFM, PAS FM, Radio Sonora, Radio Cakrawala, Radio Ramaco, Harian SIB Sumut

[sunting] Olahraga

  • Motivator Kontingen Jawa Timur untuk PON XVI di Palembang.
  • Motivator Tim Bulu Tangkis Indonesia untuk Olimpiade Sydney 2000
  • Motivator Tim Bulu Tangkis Indonesia untuk Thomas & Uber Cup 2000
  • Motivator Tim Bulu Tangkis Indonesia untuk All England 2000
  • Motivator Tim Karate Sea Games Philiphina 2005
  • Motivator Tim Golf Indonesia untuk Kejuaraan Asia (Mei 2006)
  • Motivator petinju Chris John jelang laga melawan penantangnya Zaiki Takemoto di Kobe, Jepang, Agustus 2007 

http://id.wikipedia.org/wiki/Andrie_Wongso

Indra Bigwanto - Fokus, Berbeda, dan Manfaatkan Jaringan Sosial

Nama Usaha        : Bandung FM
Mulai Usaha         : 1988
Usaha Lain           : Guard Indonesia, Editor Best 1 Djarum
                                : Sekolah Manajemen Radio
Lokasi Usaha       : Bandung
Organisasi             : PRSSNI (Ketua II Jawa Barat)
                                : PRSSNI (Kaetua I Pusat)
                                : Ketua Tim Task Force Suara Aceh (With UNESCO)
                                : Instruktur Unesco




Siapa yang pernah mendengar nama Bandung FM ? Bagi pendengar setia radio, nama stasiun yang satu ini masih cukup asing. Setidaknya dalam kurun waktu enam bulan ke belakang. Wajar saja, pendengarnya juga hanya diperkirakan 3.000 orang. Bahkan, peringkatnya juga hampir paling bontot, yaitu di posisi 46.

Namun, siapa sangka hanya dalam waktu enam bulan, Bandung FM langsung meroket. Memang masih belum setenar radio swasta yang sudah berdiri puluhan tahun. Tapi yang ajaib, justru beberapa radio berpamor tinggi peringkatnya sudah disalip radio yang bisa disebut masih “anak bawang”. Pendengarnya bertambah puluhan kali lipat menjadi sekitar 90 ribu. Sementara peringkatnya langsung menyodok ke posisi 11.

Jangan tanya soal modal atau promosi besar-besaran. Pasalnya sang pemikir satu ini tak mengandalkan jurus tersebut untuk memajukan radio yang baru satu semester digarapnya. Nah, kuncinya ternyata ada pada program yang dibuat untuk menarik jumlah pendengar yang banyak.

Sebelum melanjutkan ke cerita berikutnya, mari kita berkenalan dengan orang yang membuat Bandung FM cepat “berlari”. Ia adalah Indra Bigwanto. Lelaki kelahiran September 1962 inilah yang mampu menaikan pamor radio sepi pendengar jadi favorit.

“Banyak komunitas yang bisa digarap, kami merangkul ujung tombaknya dan itu terbukti berhasil,” ujar Indra.

Salahsatu komunitas yang dituju adalah kelompok pendukung Persib Bandung. Komunitas yang tergabung dalam Viking ini ia manfaatkan sebagai pasar. Dua “gegedug” Viking diajak kerjasama sebagai penyiar, Ayi Beutik dan Yana Bool. Dan program inilah yang jadi unggulan di Bandung FM.

“Program republik bobotoh (program siaran Ayi dan Yana) memang sengaja dibuat, selain komunitasnya banyak, ini juga merupakan perwujudan konsep di masa lalu saya yang sempat membuat tabloid Bobotoh,” jelas Indra.

Selain komunitas pecinta Persib, Indra dan timnya juga memanfaatkan komunitas lainnya seperti otomotif, blogger, ataupun film. Nah, program yang dibuatnya ini rupanya dapat merangkul banyak pendengar untuk beralih ke frekuensi 95.2 Bandung FM.

Urusan radio memang sudah menjadi santapan Indra sejak dulu. Pertama kali ia terjun ke dunia kerja, Indra langsung menggeluti dunia radio di Radio Famor di tahun 1988. Tak lama dari itu, ia beralih ke media cetak dan bergabung ke koran Pikiran Rakyat . Lalu PR membuat radio, dan Indra pun kembali dipercaya menggawangi radio PR sebagai Station Manager.

Tahun 1990, Indra kembali pindah. Kali ini radio OZ jadi pelabuhan berikutnya. Di radio ini Indra yang dipercaya sebagai Direktur selama 10 tahun membuat banyak perubahan. Banyak program yang dibuat bersama timnya seperti komputerisasi, pengadaan OB Van, serta mampu meningkatkan pendapatan karyawannya. Bahkan, Indra juga sempat satu era dengan P Poject serta Sogi Indraduadja yang keduanya kini punya nama  tenar.

Tahun 2000, Indra keluar dari OZ dan memutuskan membuat usaha sendiri. Ia berangkat ke Jakarta dan mendirikan perusahaan komunikasi bernama Metro Star hingga tahun 2004. Di tahun 2002, ia juga mendirikan perusahaan di Bandung yang bergerak di bidang konsultan radio yaitu PT. Radio Inovator Indonesia (RI-1).

Selain itu, Indra juga sempat beberapakali membuat media cetak seperti Buah Batu Bisnis, Bandung Plus, Pasar Mobil Bandung, Metro Pos, serta Tabloid Bobotoh. Persaingan yang cukup ketat membuatnya harus mencoba untuk kembali menggeluti dunia radio.

“Nah di radio ini, sekarang saya juga akan kembali menerbitkan tabloid,” katanya.
Banyak tantangan yang sudah ia dapatkan saat menjalani usahanya, Namun ia tetap bertahan dan mampu kembali bangkit untuk terjun di usaha baru. Menurutnya, kunci suksesnya harus berada pada mental yang kuat. Persaingan yang semakin ketat membuat tentu membutuhkan daya tahan yang kuat untuk menghadapinya.

Selain itu, Indra juga menyarankan agar terus berfokus pada usaha yang sedang dijalankan. Differensiasi juga jadi faktor yang penting untuk berlomba dengan perusahaan lain. Ia mengatakan, dengan perbedaan akan dapat menciptakan pasar sendiri yang bisa digarap.

Dengan adanya teknologi yang lebih maju seperti sekarang, Indra juga menyarankan agar memanfaatkan jaringan sosial di internet dengan lebih intensif. Menurutnya, hal itu bisa dijadikan sebagai sarana promosi efektif dan murah biaya.

“Saat ini banyak yang bisa dimanfaatkan untuk memajukan usaha, tinggal kitanya saja yang harus bisa mencari differensiasi, dan terus fokus pada usaha yang dikerjakan,” tutur mantan Ketua I PRSSNI (Persatuan radio Siaran Swasta Nasional Indonesia).

 http://pengusaha.co.id/cerita/indra_bigwanto_fokus_berbeda_manfaatkan_jaringan_sosial

Bob Sadino

Bob Sadino (lahir di Lampung, 9 Maret 1933; umur 77 tahun), atau akrab dipanggil om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya.
Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan. Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.
Pekerjaan pertama yang dilakoninya setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedes yang ia miliki, ia sendiri yang menjadi sopirnya. Namun sayang, suatu ketika ia mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Bob beralih pekerjaan menjadi tukang batu. Gajinya ketika itu hanya Rp.100. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya.[1]
Suatu hari, seorang teman menyarankan Bob memelihara dan berbisnis telur ayam negeri untuk melawan depresinya. Bob tertarik dan mulai mengembangkan usaha peternakan ayam. Ketika itu, di Indonesia, ayam kampung masih mendominasi pasar. Bob-lah yang pertama kali memperkenalkan ayam negeri beserta telurnya ke Indonesia. Bob menjual telur-telurnya dari pintu ke pintu. Ketika itu, telur ayam negeri belum populer di Indonesia sehingga barang dagangannya tersebut hanya dibeli oleh ekspatriat-ekspatriat yang tinggal di daerah Kemang, serta beberapa orang Indonesia yang pernah bekerja di luar negeri. Namun seiring berjalannya waktu, telur ayam negeri mulai dikenal sehingga bisnis Bob semakin berkembang. Bob kemudian melanjutkan usahanya dengan berjualan daging ayam. Selain memperkenalkan telur ayam negeri, ia juga merupakan orang pertama yang menggunakan perladangan sayur sistem hidroponik di Indonesia.
Catatan awal tahun 1985 menyebutkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40-50 ton daging segar, 60-70 ton daging olahan, dan sayuran segar 100 ton.[2]

http://id.wikipedia.org/wiki/Bob_Sadino